LIGA Super Indonesia (LSI) edisi perdana yang sudah digulirkan sejak 12 Juli 2008 berakhir sudah. Seperti sudah diketahui bersama, Persib Bandung mengakhiri kompetisi di peringkat ketiga di bawah duo Papua, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena. Sebagai bahan evaluasi, mulai edisi ini, "GM" akan menyajikan beberapa tulisan secara berseri.**
UNTUK mengukur sebuah hasil kerja, patokannya adalah target yang sudah dicanangkan. Dari sisi ini, rasanya tak perlu ada perdebatan jika Persib dinilai gagal, karena target yang dicanangkan sejak awal adalah mahkota juara Liga Super Indonesia (LSI) 2008-2009.
Wajar, kalau kemudian Ketua Badan Pengelola Persib, H. Dada Rosada mengungkapkan ketidakpuasannya. "Target kita itu juara. Karena itu, saya tidak puas dengan hasil Persib yang hanya mampu berada di urutan ketiga," kata Dada.
Dada semakin kecewa karena target alternatif, menjadi runner-up juga lepas dari genggaman. Meski menang 2-1 atas Persija Jakarta pada laga terakhir, Persib tetap gagal mempertahankan posisi kedua, karena kalah selisih gol dengan rival tunggalnya, Persiwa Wamena yang menang 5-0 atas PSMS Medan pada laga pamungkasnya. Wajar pula kalau kemudian Dada meminta pertanggungjawaban atas kegagalan tersebut.
Membaik
Kegagalan juga diakui secara gentleman oleh Manajer Persib, H. Jaja Soetardja. Ia pun siap mempertanggungjawabkan semuanya. Hanya saja, Jaja meminta publik sepak bola Bandung memandang secara objektif kegagalan tersebut.
"Kita memang gagal menjadi juara dan mengamankan posisi runner-up. Tapi lihat juga bahwa tim ini mengalami peningkatan prestasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peringkat ketiga, adalah posisi terbaik yang tidak bisa dicapai Persib sejak menjuarai Liga Indonesia (LI) I, 14 tahun lalu," kata Jaja.
"Prestasi ini pun lebih baik ketimbang tim yang saya pegang pada LI X/2004," tambahnya.
Ketika Jaja menjadi manajer menggantikan H.M. Sanusi (alm.) pada LI X/2004, Persib menempati peringkat keenam dalam kompetisi yang juga menggunakan format satu wilayah. Prestasi yang bisa dinilai sepadan adalah ketika tim asuhan Indra M. Thohir menembus babak "8 Besar" pada LI VII/2001.
Sebelumnya, usai juara LI I/1994-1995, Persib sempat menerobos babak "12 Besar" pada LI II/1995-1996 dan LI III/1996-1997, namun gagal masuk ke semifinal. Yang dianggap sepadan dengan prestasi ini adalah saat Persib menduduki peringkat ke-5 Wilayah Barat LI XI/2005 dan LI XIII/2007.
Di luar musim itu, prestasi Persib sangat menyedihkan, karena sempat dibayangi hantu degradasi, yaitu pada LI V/1998-1999, LI VI/1999-2000, LI IX/2003, dan LI XII/2006. Bahkan, pada LI IX/2003 dan LI XII/2006, Persib selamat dari ancaman degradasi hanya karena keputusan kontroversial PSSI ketika secara mendadak mengadakan babak play-off dan meniadakan degradasi lantaran gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.
Tetap diapresiasi
Karena itu, Asisten Manajer Persib, H. Umuh Muhtar mengatakan, meski hanya menempati peringkat ketiga, apresiasi mestinya tetap diberikan terhadap perjuangan dan pengorbanan seluruh awak Persib.
Di mata bobotoh, meski juara menjadi harapan besarnya, namun mereka mengaku tidak terlalu kecewa. "Kita merasa terobati karena Persib bisa memenangkan laga bergengsi melawan Persija pada pertandingan terakhir," kata Ayi Beutik, salah seorang pentolan Viking Persib Fans Club.
Bagaimana komentar pelatih Jaya Hartono? "Saya memang gagal mengantarkan tim ini juara dan juga mengamankan posisi runner-up. Tapi, ini tetap hasil akhir yang manis. Saya tetap merasa lega dan puas," katanya.
Diposting oleh
persib
0 komentar:
Posting Komentar